(Gemetar) A-aduh... ini bukan untuk saya. Sialan, salah kirim grup.
(Sok manis) Maaf, Pak Polisi. Itu anak saya. Saya hanya meluruskan akhlak dia.
Salah kirim apa, Pak?
(Membaca) "Grup Bandar Narkoba Kelas Atas". Isinya: "Barang sudah dikirim ke kantor bos gembel. Tandatangan pakai darah."
(Dengan polos, mendekati kardus) Berat juga, Pak. Kayaknya isinya beneran kaca mata. Soalnya ada bunyi krek-krek .
(Menghela napas, hampir nangis) Alex... lo datang tepat waktu.
(Berteriak) TEMBAKAN! SERBU!
L- lo ? Masa sih?
Ya sudah, tanda tangan di sini, Pak.
(Saat Bos mau tanda tangan, pintu kantor terbuka lagi dengan dramatis. Masuk NYAI RORO, Ibu Bos. Make up tebal, baju merah menyala. Bawa tongkat.)
(Sambil berdiri, nyaris nangis) Pak Adam, tega amat? Padahal saya sudah setia jadi sekretaris Bapak selama 3 tahun, meskipun Bapak sering lupa nama saya dan manggil saya "Eh, kamu".
(Semua orang, termasuk Nyai Roro, tertawa terbahak-bahak. Bos Adam mukanya merah padam.)
(Nunjuk ke Alex) Dia. Soalnya laporan aslinya bukan dari kalian, tapi dari pesaing bisnis Bapak (nunjuk Bos Adam) yang nyewa preman buat nutup kantor ini. Tapi preman itu ketiduran di mobil. Jadi saya curiga Alex ini mata-mata.
(Suasana mencekam. Tiba-tiba HP Bos Adam bunyi "Notifikasi WhatsApp". Bos lihat, lalu wajahnya berubah pucat.)
(Gemetar) A-aduh... ini bukan untuk saya. Sialan, salah kirim grup.
(Sok manis) Maaf, Pak Polisi. Itu anak saya. Saya hanya meluruskan akhlak dia.
Salah kirim apa, Pak?
(Membaca) "Grup Bandar Narkoba Kelas Atas". Isinya: "Barang sudah dikirim ke kantor bos gembel. Tandatangan pakai darah." naskah drama komedi 10 orang bikin ngakak
(Dengan polos, mendekati kardus) Berat juga, Pak. Kayaknya isinya beneran kaca mata. Soalnya ada bunyi krek-krek .
(Menghela napas, hampir nangis) Alex... lo datang tepat waktu.
(Berteriak) TEMBAKAN! SERBU!
L- lo ? Masa sih?
Ya sudah, tanda tangan di sini, Pak.
(Saat Bos mau tanda tangan, pintu kantor terbuka lagi dengan dramatis. Masuk NYAI RORO, Ibu Bos. Make up tebal, baju merah menyala. Bawa tongkat.) (Gemetar) A-aduh
(Sambil berdiri, nyaris nangis) Pak Adam, tega amat? Padahal saya sudah setia jadi sekretaris Bapak selama 3 tahun, meskipun Bapak sering lupa nama saya dan manggil saya "Eh, kamu".
(Semua orang, termasuk Nyai Roro, tertawa terbahak-bahak. Bos Adam mukanya merah padam.)
(Nunjuk ke Alex) Dia. Soalnya laporan aslinya bukan dari kalian, tapi dari pesaing bisnis Bapak (nunjuk Bos Adam) yang nyewa preman buat nutup kantor ini. Tapi preman itu ketiduran di mobil. Jadi saya curiga Alex ini mata-mata. (Sok manis) Maaf, Pak Polisi
(Suasana mencekam. Tiba-tiba HP Bos Adam bunyi "Notifikasi WhatsApp". Bos lihat, lalu wajahnya berubah pucat.)